Secara umum
sebagaimana analisis perpatahan pada benda hasil uji tarik maka perpatahan
impak digolongkan menjadi 3
jenis, yaitu:
a.
Perpatahan berserat (fibrous fracture)
Melibatkan mekanisme pergeseran bidang bidang kristal
di dalam bahan (logam) yang ulet (ductile).
Ditandai dengan permukaan patahan berserat yang berbentuk dimpel yang menyerap
cahaya dan berpenampilan buram.Informasi lain yang dapat dihasilkan dari
pengujian impak adalah temperaturn transisi bahan. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan
transisi perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang
berbeda-beda. Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda maka akan
terlihat bahwa pada temperatur tinggi material akan bersifat ulet (ductile) sedangkan pada temperatur
rendah material akan bersifat rapuh atau getas (brittle).
Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan
pada temperatur yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu berada
dalam kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila temperatur
dinaikkan (ingatlah bahwa energi panas merupakan suatu driving force terhadap
pergerakan partikel atom bahan). Vibrasi atom inilah yang berperan sebagai
suatu penghalang (obstacle)
terhadap pergerakan dislokasi pada saat terjadi deformasi kejut/impak dari
luar.
Dengan semakin tinggi vibrasi itumaka pergerakan
dislokasi mejadi relatif sulit sehingga dibutuhkan energi yang lebih besaruntuk
mematahkan benda uji. Sebaliknya pada temperatur di bawah nol derajat Celcius,
vibrasi atom relatif sedikit sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan
dislokasi menjadi lebih mudah dan benda uji menjadi lebih mudah dipatahkan
dengan energi yang relatif lebih rendah.
b.
Perpatahan
granular/kristalin
Mekanisme pembelahan (cleavage) pada butir-butir dari bahan (logam) yang rapuh (brittle). Ditandai dengan permukaan
patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul cahaya yang tinggi
(mengkilat).
c.
Perpatahan campuran (berserat
dan granular).
Merupakan
kombinasi dua jenis perpatahan di atas.
Patah Getas
dan Patah Ulet
Secara umum perpatahan dapat digolongkan menjadi 2 golongan umum yaitu:
1.
Patah Ulet/ liat
Patah yang ditandai oleh deformasi
plastis yang cukup besar, sebelum dan selama proses penjalaran retak.
2.
Patah Getas
Patah yang ditandai oleh adanya
kecepatan penjalaran retak yang tinggi. Tanpa terjadi deformasi kasar dan
sedikit sekali terjadi deformasi mikro. Terdapat 3 faktor dasar yang mendukung
terjadinya patah dari benda ulet menjadi patah getas :
1. Keadaan
tegangan 3 sumbu/ takikan.
2. Suhu
yang rendah.
3. Laju
regangan yang tinggi/ laju pembebanan yang cepat.
3.
Patah Campuran
Merupakan gabungan dari patah ulet
dan patah getas.
(dari
berbagai sumber)