Friday, October 31, 2014

Perpatahan Impak

Secara umum sebagaimana analisis perpatahan pada benda hasil uji tarik maka perpatahan impak digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
a.         Perpatahan berserat  (fibrous fracture)
Melibatkan mekanisme pergeseran bidang bidang kristal di dalam bahan (logam) yang ulet (ductile). Ditandai dengan permukaan patahan berserat yang berbentuk dimpel yang menyerap cahaya dan berpenampilan buram.Informasi lain yang dapat dihasilkan dari pengujian impak adalah temperaturn transisi bahan. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-beda. Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda maka akan terlihat bahwa pada temperatur tinggi material akan bersifat ulet (ductile) sedangkan pada temperatur rendah material akan bersifat rapuh atau getas (brittle).
Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada temperatur yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu berada dalam kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila temperatur dinaikkan (ingatlah bahwa energi panas merupakan suatu driving force terhadap pergerakan partikel atom bahan). Vibrasi atom inilah yang berperan sebagai suatu penghalang (obstacle) terhadap pergerakan dislokasi pada saat terjadi deformasi kejut/impak dari luar.
Dengan semakin tinggi vibrasi itumaka pergerakan dislokasi mejadi relatif sulit sehingga dibutuhkan energi yang lebih besaruntuk mematahkan benda uji. Sebaliknya pada temperatur di bawah nol derajat Celcius, vibrasi atom relatif sedikit sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan dislokasi menjadi lebih mudah dan benda uji menjadi lebih mudah dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah.

b.        Perpatahan granular/kristalin
Mekanisme pembelahan (cleavage) pada butir-butir dari bahan (logam) yang rapuh (brittle). Ditandai dengan permukaan patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul cahaya yang tinggi (mengkilat).

c.         Perpatahan campuran (berserat dan granular).
Merupakan kombinasi dua jenis perpatahan di atas.

Patah Getas dan Patah Ulet
Secara umum perpatahan dapat digolongkan menjadi 2 golongan umum yaitu:
1.        Patah Ulet/ liat
Patah yang ditandai oleh deformasi plastis yang cukup besar, sebelum dan selama proses penjalaran retak.
2.        Patah Getas
Patah yang ditandai oleh adanya kecepatan penjalaran retak yang tinggi. Tanpa terjadi deformasi kasar dan sedikit sekali terjadi deformasi mikro. Terdapat 3 faktor dasar yang mendukung terjadinya patah dari benda ulet menjadi patah getas :
1.      Keadaan tegangan 3 sumbu/ takikan.
2.      Suhu yang rendah.
3.      Laju regangan yang tinggi/ laju pembebanan yang cepat.
3.        Patah Campuran
Merupakan gabungan dari patah ulet dan patah getas.

(dari berbagai sumber)

Deformasi Plastis

Suatu material dapat bertahan dari energi tekan di karenakan energi  tekan tidak melebihi energi material itu.  Deformasi elastis adalah perubahan bentuk material yang di beri gaya tarik atau tekan sehingga dapat berubah bentuk dan bila energi tarik atau tekan di hilang kan benda tersebut akan kembali k bentuk semula . contoh nya saja pada waktu kita maelakukan uji tarik ,pada saat material yang kita uji di tarik maka aka ada perubahan panjang pada material itu tetapi material itu akan kembali pada bentuk semula apa bila gaya tarik di hilangkan. 
Sedangkan pada deformasi plastic material yang sudah di beri gaya tarik hingga mengalami perubahan panjang atau bentuk tidak akan kembali pada bentuk semula setelah gaya tarik di hilangkan. Seperti diperlihatkan dalam grafik tegangan-regangan terdapat yang namanya batas luluh (yield strength) nah untuk deformasi elastis itu berada di bawah batas luluh sedangkan untuk deformasi plastis berada/melewati batas luluh suatu material, di mana untuk setiap material memiliki karakteristik yang berbeda-beda, misalnya saja pada pipa jenis API 5L X 52 di mana yield strengthnya (SMYS) adalah 52000 psi yang artinya karakter elastis pada material tersebut adalah < 52000 psi sedangkan plastisnya > 52000 psi.
Mengenai tentang struktur mikro, pada saat di deformasi elastis tidak ada perubahan perubahan mikro begitu juga ketika deformasi elastis itu hilang. Secara sederhana deformasi elastis itu dapat kita gambarkan dengan dua buah atom Fe yang diikat dengan sebuah pegas. Ketika kita deformasi elastis maka pegas akan berusaha melawan Fe yang kita tarik.  Untuk deformasi plastis struktur mikro sudah berubah.  Sebagai inisiasinya adalah sudah putusnya ikatan antara Fe, kemudian adanya pembentukan ukuran butir yang baru (biasanya ukuran butir menjadi lebih kecil dan gepeng karena deformasi plastis akibat tekanan). Pembentukan butir butir baru terbutlah yang menyebabkan terjadinya perubahan struktur mikro.
Biasanya daerah elastik itu dibatasi oleh garis proporsioanal antara tegangan san tegangan, nah ujung dari titik proporsioanl ini disebut sebagai yield point.setelah keluar dari daerah ini, disebut sebagai daerah plastic yg tidak akan kembali   kebentuk semula.  Alasannya karena sudah terjadi perubahan, sedangkan di daerah elastic tidak terjadi perubahan secara drastis, hal ini disebabkan ketika masih di daerah elastic, logam dapat menahan beban yg diberikan yg disebabkan oleh bertemunya dengan batas butir dengan dislokasi. sehingga menghambat pergerakkan dari dislokasi.. sedangkan ketika sudah memasuki daerah plastik, dislokasi sudah memotong batas butir.

(danidwikw.2013)

Teori Dasar Material

TEORI DASAR MATERIAL

Material adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menempati ruang. Berdasarkan pengertian tersebut maka material teknik adalah material yang digunakan untuk menyusun sebuah benda dan digunakan untuk perekayasaan dan perancangan di bidang teknik.

Klasifikasi Material
Berdasarkan sumbernya material dibagi atas dua macam :
1.      Material Organik
Material organik adalah material yang bersumber dari alam berupa makhluk hidup dan dapat dimanfaatkan langsung tanpa melalui proses. Contoh : kayu, karet alam, dan batu bara.
2.      Material Anorganik
Material anorganik adalah material yang bersumber dari alam selain makhluk hidup dan untuk mendapatkannya harus diproses terlebih dahulu.
Material anorganik dibedakan atas 2 macam yaitu :
1)        Logam
Logam adalah material yang mempunyai daya hantar listrik yang tinggi dengan sifat konduktor yang baik dan tahan terhadap temperatur tinggi, mempunyai titik didih tinggi, keras, mengkilap, tidak tembus cahaya, dan dapat dideformasi.
Logam terdiri dari :
1.         Ferro
Logam ferro adalah logam dengan unsur penyusun utamanya adalah Fe (besi). Logam ferro terbagi menjadi :
1)        Baja
Baja merupakan logam dengan unsur penyusun utamanya adalah Fe (besi) dan C (karbon) dengan kadar karbon antara 0,02 % sampai 2,1 %. Baja ini terdiri atas :
a.         Baja Karbon (Carbon Steel), terdiri dari :
·           Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel), dengan kadar karbon 0,02 % ≤ C ≤ 0,2 %. Contoh : plat dan paku.
·           Baja Karbon Menengah (Medium Carbon Steel), dengan kadar karbon 0,2 % < C ≤ 0,5 %. Contoh : roda gigi dan poros.
·           Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel), dengan kadar karbon 0,5 % < C ≤  2,1 %. Contoh : spiral, dawai, dan cetakan tempa.
b.        Baja Paduan (Alloy Steel)
Baja paduan adalah baja yang diperoleh dari pemaduan dua unsur atau lebih untuk mendapatkan sifat mekanik tertentu yang diinginkan, baja paduan dibagi atas :
1)        Berdasarkan paduan
§   Baja Paduan Rendah (Low Alloy Steel), kadar paduan ≤ 8%.
§   Baja Paduan Tinggi (High Alloy Steel), kadar paduan > 8%.
Contoh : baja tahan karat (Stain Less Steel), baja perkakas dan baja tahan gesek,
2)        Berdasarkan kegunaan :
§  Baja tahan karat (dengan penambahan Cr). Contoh: Stainless steel.
§  Baja tahan aus (dengan penambahan Mn). Contoh: Kuku eskavator.
§  Baja tahan temperatur tinggi (dengan penambahan Mo dan W). Contoh: Sudu turbin.
§  Tool steel (dengan penambahan Mo dan V). Contoh: Pahat karbida.
2)      Besi Cor (Cast Iron)
Besi cor merupakan logam dengan unsur penyusunnya adalah Fe dan grafit yang kadar karbonnya antara 2,1% sampai 6,67%.
Berdasarkan proses pembuatannya besi cor terbagi atas :
a.         Besi Cor Putih (White Cast Iron)
Besi cor putih merupakan besi cor yang tidak mempunyai grafit dengan fasa α + Fe3C. Didapat dengan pendinginan cepat, sehingga banyak mengandung Fe3C. Hal ini yang menyebabkan besi cor putih bersifat keras dan getas dengan % Si < 1.
b)        Besi Cor Kelabu (Gray Cast Iron)
Besi cor kelabu merupakan besi cor dengan bentuk grafit berbentuk serpihan yang terbentuk dari Fe3C yang terurai, bersifat mampu meredam getaran, dan mempunyai kekuatan tekan yang tinggi. Pembentukannya sama dengan besi cor putih, perbedaannya terletak pada laju pendinginan. Contoh : konstruksi mesin jahit, blok mesin, lampu hias, dan mesin bubut.
Berdasarkan fasa terbagi dua, yaitu :
§   Besi Cor Kelabu Perapian Putih (Ferritic) berfasa α. Terbentuk dengan pendinginan lambat.
§   Besi Cor Kelabu Perapian Hitam (Pearlitic)Berfasa α + Fe3C. Terbentuk dengan pendinginan normal
c)        Besi Cor Nodular (Nodular Cast Iron)
Bentuk grafit bulat, pembuatan dengan cara besi cor dipanaskan kemudian ditambah Mg (Nokulen) dan akan terbentuk gelembung-gelembung udara yang nantinya akan diisi oleh karbon dan memiliki keuletan yang tinggi. Bersifat tahan beban tarik.
Berdasarkan fasanya terbagi dua, yaitu :
§   Besi Cor Nodular Putih fasa α. (Ferritic). Terbentuk dengan pendinginan secara lambat.
§   Besi Cor Nodular Hitam Berfasa α +Fe3C. (Pearlitic). Terbentuk dengan pendinginan secara cepat.
d)       Besi Cor Maliabel (Melleable Cast Iron)
Besi cor yang diperoleh melalui proses tempering yang mempunyai sifat keras dan getas serta bentuk grafit seperti bongkahan.
Contoh : spare part yang berukuran kecil.
Berdasarkan fasanya terbagi dua, yaitu :
§   Besi Cor Maliabel Putih berfasa α. (Ferritic). Terbentuk dengan pendinginan secara lambat.
§   Besi Cor Maliabel Hitam Berfasa α +Fe3C. (Pearlitic). Terbentuk dengan pendinginan secara cepat.
2.         Non Ferro
Logam non ferro adalah logam dengan unsur penyusun utamanya selain Fe (besi) yang dicampur dengan unsur lain. Contoh: kuningan (Cu + Zn), alumunium, dan brass.
2)        Non Logam
Non logam adalah material dengan titik didih rendah dan bersifat isolator, tidak tahan temperatur yang tinggi, dan sebagian tembus cahaya. Material non logam terdiri dari :
a.         Polimer
Polimer merupakan gabungan monomer-monomer yang membentuk rantai hidrokarbon (C-H) yang panjang yang terdiri dari :
1)        Termoplastik
Termoplastik merupakan polimer dengan rantai karbon lurus, tidak tahan temperatur tinggi, dan berkekuatan rendah. Contoh : plastik.
2)        Termosetting
Termosetting merupakan polimer dengan rantai hidrokarbon bercabang, tahan terhadap temperatur tinggi, dan mempunyai stabilitas yang tinggi. Contoh : PVC (Poly Vinyl Chloride) dan melamin.
3)        Elastomer
Elastomer merupakan polimer yang mempunyai tingkat elastisitas yang tinggi dan rantai karbon berbentuk jala. Contoh : Karet alam.
b.         Komposit
Komposit merupakan perpaduan dua unsur yang terdiri dari matriks dan fiber, yang masih memiliki sifat aslinya. Fiber sebagai penguat dan matriks sebagai pengikat.
Berdasarkan matriksnya, komposit terbagi menjadi :
a)        Metal Matrics Composite (MMC) dengan logam sebagai matriks. Contoh: Body pesawat terbang
b)        Ceramic Matrics Composite (CMC) dengan keramik sebagai matriks. Contoh: Tiang bangunan beton
c)        Polymer Matrics Composite (PMC) dengan polimer sebagai matriks. Contoh: Ban
c.         Keramik
Keramik adalah suatu material yang merupakan perpaduan logam dan non logam yang membentuk sifat baru melalui proses pemanasan. Keramik terbagi atas dua, yaitu :
a.         Keramik Tradisional
Keramik tradisional adalah keramik yang pembuatannya  mengalami proses pemisahan secara tradisional. Contoh : gerabah dan ubin.
b)        Keramik Modern
Keramik modern adalah keramik yang mengalami proses kimia secara modern untuk mendapatkan properties / sifat yang diinginkan. Contoh : keramik pada besi dibuat untuk mencegah rugi-rugi panas pada pencetusan awal pembakaran.
Struktur Mikro Material
Struktur mikro material terdiri atas :
1.        Atom
Atom merupakan bagian terkecil dari material yang tidak dapat dibagi lagi dengan reaksi kimia biasa.

2.        Sel Satuan
Sel satuan merupakan gabungan dari beberapa atom yang tersusun secara teratur dan berulang.
Jenis-jenis sel satuan antara lain :
a)         Cubic
Sel satuan Cubic terdiri dari :
·           Body Centered Cubic (BCC), perhitungan APF dari BCC adalah APF = 68 %.
·           Face Centered Cubic (FCC), perhitungan APF dari FCC adalah APF  = 74 %.
b)        Hexagonal Closed Package (HCP)
Cara perhitungan APF dari HCP :
volume sel satuan = luas alas x tinggi
tinggi = 1,633a
luas alas = 6 x luas segitiga = 6 x (1/2 a x a sin 60) = 6 x (1/2 a2 sin 60) = 3a2 sin 60
Volume sel satuan = 3a2 sin  60 x  1,633a = 4,899a3 sin 60 = 4,24a3
a = 2R, maka :
Volume sel satuan = 4,24(2R)3 = 4,24 x 8R3 = 33,94 R3
APF = 74%
c)         Tetragonal
Syarat dari tetragonal ini adalah a = b ≠ c dan α = β = γ = 90.
d)        Triklin
Syarat dari Triklin adalah a ≠ b ≠ c dan α ≠ β ≠ γ ≠ 90.
e)         Monoklin
Syarat dari Monoklin  adalah a ≠ b ≠ c dan α = γ = 90 ≠ β.

3.        Butir
Butir  merupakan kumpulan sel satuan yang mempunyai arah dan orientasi gerak yang sama yang dilihat dari arah dua dimensi.
4.        Kristal
Kristal merupakan susunan dari sel satuan yang memiliki arah dan orientasi gerak yang sama dilihat dari arah tiga dimensi.

Sifat-Sifat Material
Sifat-sifat yang terdapat pada material adalah :
1.        Sifat fisik
Sifat fisik adalah sifat material yang dapat dilihat secara langsung tanpa melakukan pembebanan dan telah ada pada material tersebut. Contoh : warna dan dimensi.
2.        Sifat termal
Sifat termal adalah sifat material yang dipengaruhi oleh temperatur. Contoh : titik didih dan titik cair.
3.        Sifat akustik
Sifat akustik adalah sifat material yang berhubungan dengan bunyi. Contoh : fibrasi.
4.        Sifat kimia
Sifat kimia adalah sifat kimia dari material untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh : korosi.
5.        Sifat teknologi
Sifat teknologi adalah sifat material untuk mampu diproses. Contoh : mampu cor.
6.        Sifat magnetik
Sifat magnetik adalah sifat material untuk merespon medan magnet.
7.        Sifat optik
Sifat optik adalah sifat material yang berhubungan dengan pencahayaan. Contoh : pembiasan.
8.        Sifat mekanik
Sifat mekanik adalah sifat material yang dipengaruhi oleh pembebanan. Sifat mekanik terdiri dari :
a.         Kekerasan
Kekerasan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis lokal akibat adanya penetrasi dipermukaan. Kekerasan ini tidak mempunyai kurva karena hanya berbentuk titik.
b.         Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis secara menyeluruh sampai material itu patah.
c.         Kelentingan
Kelentingan adalah besarnya energi yang diserap oleh material sampai pembebanan elastis dan bila gaya dihilangkan akan kembali ke bentuk semula.
d.        Keuletan
Keuletan adalah regangan plastis maksimum yang mampu ditahan oleh material sampai material tersebut patah.
e.         Ketangguhan
Ketangguhan adalah besarnya energi yang dapat diserap oleh material sampai material tersebut patah.
f.          Modulus Elastisitas
Modulus elastisitas adalah perbandingan antara tegangan dan regangan pada daerah elastis yang menunjukkan derajat kekakuan material.

Jenis-Jenis Pengujian
Pengujian mekanik adalah pengujian untuk melihat pengaruh atau respon material terhadap pembebanan. Jenis-jenis pengujian terbagi menjadi dua bagian :
1.        Akibat yang Ditimbulkan pada Material
Terbagi atas :
a.         Pengujian yang merusak (DT/ Destructive Test)
Pengujian yang merusak (DT) adalah pengujian yang dilakukan dengan memberikan beban / deformasi sampai material (spesimen) gagal atau rusak. Conto : uji tarik, uji impak, uji tekan, dan uji keras.
b.         Pengujian yang tidak merusak (NDT/ Nondestructive Test)
Pengujian yang tidak merusak (NDT) adalah pengujian yang dilakukan tanpa merusak sampel. Pada umumnya pengujian ini bertujuan untuk menemukan cacat makro dan mikro pada material. Contoh : Ultrasonik, Dye-Penetrant, Radiography Test, Visual test, dan Magnetic test.
2.        Berdasarkan Pembebanan
Terbagi atas :
a.         Pembebanan Statis
Pengujian dengan pembebanan statis adalah pengujian yang dilakukan dengan memberikan beban yang konstan setiap perubahan waktu kepada suatu  material. Jadi, berapapun lamanya pengujian, jumlah beban yang diberikan pada material itu adalah sama. Contoh : uji tarik, uji keras, uji tekan, uji puntir, dan uji lentur.
b.         Pembebanan Dinamis
Pengujian dengan pembebanan dinamis adalah pengujian yang dilakukan dengan memberikan beban yang berbeda setiap perubahan waktu kepada suatu material. Jadi, setiap perubahan waktu yang terjadi, beban yang diberikan kepada material haruslah berbeda. Contoh: Uji lelah.
c.         Pembebanan Impak
Pengujian dengan pembebanan impak adalah pengujian yang dilakukan dengan memberikan beban secara tiba–tiba atau beban kejut kepada suatu material. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk pembebanan ini sangat sedikit sekali. Contoh: uji impak.

Cacat-Cacat pada material
Cacat material adalah ketidaksempurnaan pada struktur material. Cacat pada material terdiri dari :
1.        Cacat titik
Cacat titik adalah ketidaksempurnaan pada material dalam skala atomik. Cacat yang terjadi berupa titik yang terdapat pada susunan atom, terbagi menjadi :
a.         Vacancy, adalah adanya kekosongan pada susunan atom.
b.         Substitusi, adalah adanya penggantian atom dengan atom lain.
c.         Intertisi, adalah adanya penyisipan oleh atom asing.
d.        Self-Intertisi, adalah adanya penyisipan oleh atom sendiri.
2.        Cacat garis
Cacat garis yaitu cacat yang terjadi karena adanya segaris atom yang hilang atau yang tidak sempurna. Terdiri dari :
a.       Dislokasi Sisi, adalah dislokasi yang arah geraknya tegak lurus terhadap garis dislokasi.
b.      Dislokasi Ulir, adalah dislokasi yang arah geraknya sejajar dengan garis dislokasi.
3.        Cacat bidang
Cacat bidang adalah cacat kompleks pada material karena ketidaksempurnaan pada sebidang atom yang terjadi pada batas butir.
4.        Cacat ruang

Cacat volume atau cacat ruang adalah adanya ketidaksempurnaan kristal pada seruang atom dengan timbulnya rongga antar batas butir karena orientasi butir dapat dilihat secara langsung.