Wednesday, September 10, 2014

Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah adalah karya pemikiran yang ditulis atas hasil penelitian / kajian dan didukung dengan sajian fakta / data / bukti empiris dan ditulis dengan mengikuti kaidah penulisan ilmiah.
Hasil penelitian didasarkan hasil penelitian dimana fakta (data) diperoleh dan dianalisis dengan metode tertentu. Hasil kajian didasarkan pemikiran kritis dimana fakta merupakan contoh / bukti. Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain:
·         Memuat temuan hasil penelitian / gagasan ilmiah.
·         Memperhatikan keindahan bahasa.
·         Ditulis dengan sistematika ilmiah.
·         Memuat rangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (gambaran) dan argumentasi  (alasan)  atas  temuan atau data / fakta tertentu termasuk angka, tabel, gambar dan lain-lain

Tujuan karya ilmiah, adalah:
·         Wahana mengungkapkan   hasil   penelitian   atau pemikiran.
·         Menumbuhkan etos kerja profesi.
·         Wahana transformasi pengetahuan antara peneliti, penulis dengan pembacanya.
·         Mengembangkan kemampuan diri melalui penelitian / kajian pemikiran secara ilmiah.

Jenis-Jenis Karya Tulis Ilmiah
·         Laporan Penelitian (termasuk skripsi, thesis, disertasi, dan laporan penelitian lainnya)
·         Artikel Jurnal Ilmiah (hasil penelitian)
·         Artikel Majalah Ilmiah (hasil kajian)
·         Makalah Ilmiah (bahan seminar, workshop / lokakarya, konferensi, pelatihan, temu ilmiah lainnya)
·         Buku / bahan ajar (buku perkuliahan, buku pelajaran sekolah, buku pegangan dosen / guru, dan buku ilmiah lainnya)
·         Modul / Handout / Diktat
·         Artikel opini ilmiah di media masa.

Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, atau penelitian dalam bidang tertentu,disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang baku, dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Syarat Tulisan Ilmiah
·         Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah
·         Langkah pengerjaannya dijiwai dengan metode ilmiah
·  Sosok tampilannya sesuai dan memenuhi
·         Logis
·         Sistematis
·         Objektif
·         Tuntas dan menyeluruh
·         Seksama
·         Jelas
·         Kebenarannya dapat diuji
·         Terbuka
·         Berlaku umum
·         Penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang baku.

Langkah Penulisan
·         Mencari dan menentukan fenomena,
·         Merumuskan topik,
·         Menjabarkan atau mengembangkan topik menjadi pokok-pokok pikiran,
·         Menguraikan pokok-pokok pikiran,
·         Penulisan dan Pengeditan.

Manfaat Karya Tulis Ilmiah,
·         Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
·         Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
·         Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
·         Meningkatkan pengorganisasian fakta / data secara jelas dan sistematis,
·         Memperoleh kepuasan intelektual,
·         Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan,
·         Sebagai bahan acuan / penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya.

Perbedaan artikel dan esai
Artikel
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan, artikel adalah sebagai karya tulis lengkap di majalan atau surat kabar. Dengan definisi seperti itu maka, artikel ini berupa karya tulis umum yang bersifat luas serta bebas. Oleh karena itu, artikel itu bisa berupa opini, esai, atau sekaligus semacam berita. Lazimnya, artikel ini lebih sering pada opini.Opini itu bisa muncul dari sebuah peristiwa, pemikiran atau ide sang penulis. Oleh sebab itu, salah satu modal yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah ide, pemikiran serta kepekaan melihat sebuah peristiawa.

Esai
Esai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebautkan sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya.  Secara bebas, esai bsia dikatakan sebagai tulisan yang berisi pendapat dan gagasan seseorang tentang sastra, seni dan kebudayaan. Para penulis esai biasanya seorang seniman, budayawan, sastrawan, kritikus seni, atau bisa juga politik. Meskipun tidak menutup kemungkinan orang di luar itu juga bisa menulis esai. Tulisan ini syarat dengan kandungan atau bahasan masalah di atas. Tulisan ini biasanya ditulis lebih ringan dan mengalir.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Oklilas, Fali Ahmad. “Pengertian, fungsi, syarat, sifat, jenis dan mafaat karya ilmiah”

http://www.fali.unsri.ac.id/index.php/menu/42 (diakses tanggal 30 April 2013)

Arifin, Ridwan. “Pengertian Jenis dan Ciri Karya Tulis”

ILP2MI

Fenomena yang terjadi di kalangan komunitas ilmiah antar perguruan tinggi Indonesia yakni keterbatasan komunikasi dan informasi di bidang penalaran dan penelitian. Keterbatasan tersebut mengakibatkan informasi tentang hasil-hasil penelitian, lomba-lomba karya ilmiah, aplikasi hasil penelitian, serta informasi lainnya di bidang penelitian tidak tersebar secara merata. Padahal kegiatan ilmiah yang semakin meningkat di kalangan mahasiswa telah mampu menghasilkan karya-karya yang seharusnya dapat memberikan sumbangsih dalam mengatasi permasalahan bangsa. Keadaan ini dikhawatirkan akan menghambat strategi nasional dalam menjadikan riset sebagai budaya mahasiswa Indonesia untuk mencapai bangsa yang kompetitif.

Sadar akan hal tersebut, di sela-sela pelaksanaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXII di Universitas Brawijaya Malang pada tanggal 24 Juli tahun 2009, beberapa mahasiswa yang berasal dari beberapa UKM penalaran/penelitian perguruan tinggi yang berbeda yakni Forum Studi Mahasiswa Pengembang Penalaran (Fordi Mapelar) Universitas Brawijaya, Forum for Scientific Studies (FORCES) Institut Pertanian Bogor, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa (LEPPIM) Universitas Pendidikan Indonesia, Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (PPIPM) Universitas Negeri Padang, Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) Universitas Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Riset (UKMPR) Universitas Jenderal Soedirman, Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian (UKMP) Universitas Negeri Semarang, dan Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar; melakukan rapat konsolidasi informal. Konsolidasi tersebut membahas tentang rencana pembentukan sebuah lembaga yang dapat menghimpun semua Unit Kegiatan Mahasiswa di bidang penalaran dan penelitian dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, maka direncanakan akan dilaksanakan kongres nasional sekaligus deklarasi pembentukan lembaga tersebut dimana LPM Penalaran UNM dipercayakan sebagai penyelenggara. Rencana ini mendapatkan respon positif dari beberapa UKM penalaran dan penelitian mahasiswa di Indonesia, baik dari perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Pada tahap persiapan, rencana ini telah dikomunikasikan kepada 52 UKM penalaran/penelitian se-Indonesia.Akhirnya kongres Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa se-Indonesia dilaksanakan pada tanggal 30 April - 1 Mei 2010 di Makassar. Kongres tersebut dihadiri oleh 17 Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak pada bidang penalaran dan penelitian dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, sedangkan beberapa perguruan tinggi yang tidak sempat hadir mengirimkan draf pedoman organisasi yang dijadikan sebagai pertimbangan dalam perumusan pedoman organisasi. Setelah melalui diskusi dan perdebatan yang sangat alot dalam kongres, akhirnya diperoleh sebuah kesepakatanu untuk dibentuknya Ikatan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia yang disingkat dengan ILP2MI. Lembaga ini dinyatakan berdiri pada tanggal 1 Mei 2010 ditandai dengan pembacaan dan penandatanganan deklarasi ILP2MI oleh 15 UKM Penalaran dan Penelitian di Hotel Lamacca UNM Kota Makassar.

VISIMewujudkan ILP2MI sebagai pusat pengembangan penalaran dan penelitian mahasiswa Indonesia.MISI1.   Membangun komunikasi dan kerja sama antar lembaga penalaran dan penelitian mahasiswa se-Indonesia.2.    Membangun kerja sama penelitian yang intensif dengan pemerintah, swasta, dan masyarakat.3. Mempublikasikan hasil-hasil penelitian berupa jurnal dan artikel ilmiah yang lain kepada masyarakat.Mengaplikasikan hasil-hasil penelitian mahasiswa kepada masyarakat.  FUNGSIILP2MI berfungsi sebagai wadah koordinasi dan konsolidasi lembaga penalaran dan penelitian mahasiswa dalam mengembangkan penelitian sesuai dengan kompetensi keilmuannya.TUJUANILP2MI bertujuan:1. Untuk menghimpun lembaga-lembaga kemahasiswaan penalaran dan penelitian tingkat perguruan tinggi se-Indonesia.2. Untuk menjalin komunikasi efektif antar lembaga kemahasiswaan penalaran dan penelitian tingkat perguruan tinggi se-Indonesia.3.  Untuk menumbuhkembangkan budaya penalaran dan penelitian di kalangan mahasiswa Indonesia.ANGGOTA1.        Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar2.        UKM Penalaran & Penelitian (PELITA) Universitas Jember3.        UKM Interdisipliner GAMA CENDEKIA Universitas Gajah Mada4.        Unit Penelitian Ilmiah (UPI) Interdisipliner Universitas Gajah Mada5.        Forum Diskusi Mahasiswa Penalaran (Fordi Mapelar) Universitas Brawijaya6.        Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta7.        Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang8.        Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STIK An-Nuqayah Sumenep9.       UKM Penulis Universitas Negeri Malang10.    UKM Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta11.    Club Penalaran Kreativitas Mahasiswa STMIK Handayani Makassar12.    Lembaga Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Penalaran (LKIM Pena) Universitas Muhammadiyah Makassar13.    UKM Penelitian Universitas Negeri Semarang14.    Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa (LISMA) Universitas Tanjung Pura Pontianak15.    Kelompok Penelitian Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta16.    Forum For Scientific Studies (FORCES) Institut Pertanian Bogor17.    Inkubator Sains Universitas Sumatra Utara18.    Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya Universitas Indonesia19.    Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual (LEPPIM) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung20.    Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (PPIPM) Universitas Negeri Padang21.    Rumah Pena Universitas Sultan Agung Semarang22.    UKM IPMI(Ikatan Peneliti Mahasiswa IKIP) IKIP Mataram
23.    UKM Penalaran Universitas Andalas24.    Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran dan Riset (UKMPR) Universitas Jendral Soedirman25.    Laboratorium Mahasiswa (LABMA) Univeristas Islam Indonesia Yogyakarta

Ma'rifatul Rasul

MA’RIFATURRASUL
(Mengenal Rasul)

Segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepad siapa-siapa saja yang dikehendaki-Nya, tak lupa pula shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan terhadap utusan-Nya Muhammad SAW kepada keluarganya, para sahabatnya serta kita selaku penganut ajaran agama yang di bawanya.
            Seiring dengan perkembangan zaman, masalah-masalah kian menjalar dalam masyarakat salah satunya adalah penyelewengan akan adanya rasul setelah Nabi Muhammad SAW. Meskipun penyelewengan seperti itu sudah ada semenjak zaman sepeninggalan Rasulullah, namun pada saat ini kembali muncul pernyataan-pernyataan yang mengakui dirinya sebagai utusan Allah SWT setelah Muhammad SAW. Di lihat dari kasus tersebut, menyadarkan kita akan pentingnya pemahaman yang mendalam mengenai ma’rifaturrasul.
Ma’rifaturrasul (Mengenal Rasul) adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mengamalkan Islam secara sempurna.  Tanpa Rasul maka kita tidak dapat melaksanakan Islam dengan baik.  Kehadiran Rasul memberikan panduan dan bimbingan kepada kita bagaimana cara mengamalkan Islam.  Dengan demikian Rasul adalah penting bagi muslim sebagai metod atau tariqali untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mengenal Rasul tidak saja dalam bentuk fisikal atau penampilannya tetapi segala aspek syar’I berupa sunnah yang diajarkankan Nabi kepada kita semua baik itu berupa tingkah laku, perkataan ataupun sikap.  Pengenalan kepada Rasul dapat dilihat melalui sirah nabi yang menggambarkan kehidupan Nabi serta latar belakangnya seperti nasab.  Kemudian melalui sunnah dan dakwah Nabi pun dapat memberikan penjelasan siapa Nabi sebenarnya.
              Secara etimologis Nabi berasal dari kata na-ba artinya meninggikan, atau dari kata na-ba-a artinya berita. Nabi adalah lelaki pilihan yang diutus oleh Allah untuk mendapatkan wahyu berupa syariat namun tidak harus menyampaikannya kepada umat manusia. Nabi diutus untuk mengukuhkan syariat sebelumya. Sedangkan rasul berasal dari kata ar-sa-la artinya mengutus. Yang di bentuk menjadi Rasul berarti yang di utus. Rasul adalah lelaki pilihan dan yang diutus oleh Allah dengan risalah kepada manusia. Rasul merupakan yang terbaik diantara manusia lainnya sehingga apa yang dibawa, dikatakan dan dilakukan adalah sesutu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan manusia lain. Sebagaimana manusia biasa lainnya Nabi dan Rasul pun hidup seperti kebanyakan manusia yaitu makan,minum,tidur,berjalan-jalan dan lain-lain. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Furqon ayat 20:
“Dan Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar...”

Setiap Nabi dan Rasul  ma’shum artinya terpelihara dari segala macam dosa, baik yang besar apalagi yang kecil. Tetapi sebagai manusia biasa yang juga tidak terbebas dari sifat lupa seorang Nabi dan Rasul bisa saja melakukan kekhilafan seperti kekhilafan yang di lakukan oleh Nabi Adam yang dikemukakan dalam Surat Thaha : 115 Allah SWT menyatakan bahwa adam lupa dengan perintah Allah untuk tidak mendekati pohon larangan. Dalam surat Al-Ahzab : 5 Allah SWT menyatakan bahwa tidak ada dosa atas sesuatu yang di lakukan atas ketidaksengajaan atau karena lupa. Selanjutnya mengomentari firman Allah dalam Surat Thaha: 121 yang menyatakan bahwa adam telah bermaksiat kepada Tuhannya, Sayid Sabiq mengatakan: “ kelalaian yang di perbuat oleh nabi Adam itu oleh Al-Quran di kemukakan sebagai suatu kemaksiatan sebab menilik kedudukan adam yang diciptakan oleh Allah SWT dengan tangan kekuasaan-Nya secara langsung… kiranya seorang yang sedemikian hal ihwalnya rasanya tidak patut kalau sampai melupakan apa-apa yang telah diwasiatkan serta apa-apa yang telah dijanjikan oleh Allah ta’ala kepadanya. Jadi dalam hal ini seirama dengan suatu ucapan yaitu : kebaikan bagi manusia yang berbuat baik setaraf dengan nilainya dengan keburukan bagi orangg yang sudah taqarrub kepada Tuhan.”     ( Sayid Sabiq,1986, hal. 296)

Konsep kenabian meliputi dua macam,yakni :
1. Mukjizat
            Untuk membuktikan kerasulan dan kebenaran ajaran yang di bawa mereka, serta untuk menjawab tantangan dan mematahkan argumentasi para penentang, para rasul di lengkapi oleh Allah SWT dengan mukjizat, yaitu kejadian luar biasa (khawariqul ‘adah) yang terjadi atas izin Allah SWT. Mukjizat para rasul berbeda-beda satu sam lain sesuai dengan kecenderungan umat masing-masing atau situasi yang menghendaki. Dalam api yang menyala – bahkan beliau merasakan kenyamanan berada di dalamnya – bukanlah bermaksud mendemonstrasi kemampuannya “ tahan api”, tetapi memang keadaan waktu itu yang menyebabkan Allah memilih mukjizat ini untuk Ibrahim Khalilullah. Mukjizat Nabi Musa antara lain membelah lautan dengan tongkat, lalu terbentang jalan raya di tengahnya, atausebelumnya tongkat menjadi ular besar yang melahap habis ular-ular tukang sihir suruhan Fir’aun, memang sesuai tantangan dan situasi yang di hadapi oleh Musa Kalimullah waktu itu. Begitu juga mukjizat Nabi Isa a.s, bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit berat yang tak mampu disembuhkan oleh dokter-dokter ahli , waktu itu sesuai dengan kecenderungan dan prestasi pengobatan pada waktu itu. Tapi khusus untuk nabi Muhammad SAW di samping mukjizat yang hissiyah ( inderawi ) seperti keluar air dari sela-sela jari-jarinya untuk keperluan paa sahabat berwudhu, beliau di lengkapi mukjizat yang abadi sepanjang zaman yaitu Kitab Suci Al-Qur’an. Hal itu sesuai dengan tugas rasul untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman nanti, berbeda dengan rasul-rasul sebelumnya yang hanya di utus untuk umat dan masa tertentu saja.

2. Karomah
            Istilah karomah berasal dari bahasa Arab, secara bahasa berarti mulia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat di artikan suci dan dapat melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaannya kepada Tuhan. Ajaran islam memaksudkan sebagai “ khariqun lil adat “, yaitu kejadian luar biasa pada seorang wali Allah. Syaikh Thohir binsholeh Al-jazairi mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang nabi.[2] Sedangkan Iman Qusyairi menjelaskan karomah sebagai penampakkan karomah merupakan  tanda-tanda kebenaran sikap dan kelakuan seseorang. Barang siapa yang tidak benar sikap dan kelakuannya, maka tidak dapat menampakkan kekaromahannya. Dan allah yang maha Qodim memberi tahu kepada kita agar membedakan orang yang bebar dan yang bathil.
 Proses Penerimaan Wahyu
                   Nabi Muhammad saw bukanlah seorang rasul yang berbeda dari para nabi dan rasul sebelumnya. Beliau pun bukanlah nabi pertama yang berbicara terhadap manusia atas nama wahyu, kalam ilahi. Sejak nabi Nuh a.s, muncul berturut-turut pribadi-pribadi suci pilihan Allah, yang semuanya berbicara atas nama Allah dan semua ucapannya bukanlah keluar dari hawa nafsu. Wahyu ilahi yang mendukung dan memperteguh kenabian mereka, suatu keadaan yang tidak berbeda dengan kenabian Muhammad saw. Semuanya adalah serupa, karena sumbernya adalah satu dan tujuannya pun satu juga.
            Allah menurunkan wahyu kepada para rasul-Nya dengan dua cara: ada yang melalui perantara dan ada yang tidak melalui perantara,s ebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an Q.S. Asy-Syura : 51
“Dan tidak mungkin bagi seorang pun bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu di wahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia maha tinggi , maha bijaksana.” ( Q.S. Asy-Syura : 51 )
1. Proses Penerimaan Wahyu secara langsung
a)      Mimpi yang benar dalam tidur
‘Aisyah r.a berkata, “ sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar dalam tidur. Beliau tidaklah bermimpi melainkan mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari….” (Shahih, HR Bukharino.3)
            Ketika Nabi Muhammad berusia empat puluh tahun, suatu awal kematangan, dan ada yang berpendapat bahwa pada usia inilah para rasul diangkat menjadi rasul, mulai tampaklah tanda-tanda nubuwah dalam kehidupannya. Diantara tanda-tanda itu adalah datangnya mimpi yang hakiki. Selama enam bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar shubuh yang menyingsing.
            Di antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para nabi adalah wahyu yang wajib di ikuti, ialah mimpi nabi Ibrahim agar menymbelih anaknya, ismail ( Q.S. Ash-Shaffat : 101-102)

2. Penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul
            Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat  kepada Rasul :
a.      Datang seperti suara lonceng. Cara ini adalah cara yang paling berat bagi Rasul,, apabila wahyu yang tueun kepada rasulullah SAW dengan cara ini, biasanya beliau mengumpulkan segala kekuatan dan kesadrannya untuk menerima, menghapal dan memahaminya.
b.      Malaikat datang kepada Rasul menyerupai sebagai seorang laki-laki. Cara seperti ini lebih ringan dari pada cara sebelumnya.
            
Fungsi Nabi & Rasul
          Dr Abdul Aziz bin Muhammad Abd Lathif dalam bukunya Pelajaran Tauhid untuk Tingkat Lanjutan, mengemukakan bahwa ada 4 fungsi Nabi bagi manusia,antara lain:
a.       Allah mengutus para rasul-Nya untuk mengenalkan  manusia tentang sesembahan yang haq, juga untuk menyeru mereka agar  hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Hal ini terdapat dalam Qur’an Surat Al-Anbiya: 25.
b.       Allah mengutus para rasul untuk menegakkan agama ,serta melarang mereka berpecah belah tentangnya. Terdapat dalam Qur’an Surat  Asy-Syura :13
c.       Allah mengutus para rasul juga untuk memberikan kabar gembira dan peringatan. Termaktub dalam Qur’an Surat Al-Kahfi : 56
d.      Allah mengutus para rasul juga untuk memberikan teladan yang baik bagi manusia dalam perilaku yang lurus, akhlak yang mulia dan ibadah yang benar. Terdapat dalam Qur’an Surat al-Ahzab : 21

Sifat-Sifat Dasar Rasulullah SAW

Muhammad SW memiliki empat sifat dasar yang menjadikannya layak untuk mengemban, empat sifat dasar tersebut adalah:

1.2.1 Jujur (Shiddiq).
Kejujuran Muhammad SAW, adalah kejujuran mutlak yang tidak akan pernah luntur dalam kondisi apapun, maka beliau tidak pernah mengatakan sesuatu melainkan sesuai dengan realita, baik ketika berjanji ataupun bersumpah, serius ataupun bercanda. Kejujuran seperti ini, adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang rasul; karena manusia tidak akan percaya kepada rasul yang tidak jujur. Diantara contoh kejujuran Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Abdullah bin Abil Khansa, ia menuturkan,”Sebelum masa kenabian, aku pernah melakukan transaksi jual beli bersama Rasulullah SAW. Ketika itu, aku masih menyisakan beberapa barang dagangannya padaku, lalu aku berjanji akan mengantarkan barang tersebut ke tempat beliau pada hari itu juga, akan tetapi ketika itu aku lupa, begitu pula keesokan harinya, sehingga aku datang ke tempat beliau pada hari yang ke tiga. Beliau beliau bersabda,”Wahai anak muda! Engkau telah menyengsarakan aku, sejak tiga hari yang lalu aku terus menunggumu di sini.”
Dari kisah tersebut, kita dapat melihat, bahwa beliau jujur dengan apa yang telah beliau sepakat dengan pemuda tersebuti, di mana dari hari pertama yang disepakati dengan pemuda tersebut sampai hari di mana pemuda itu datang kepadanya, Rasullullah SAW tetap setia menunggu.

1.2.2 Amanah dengan Apa yang Didakwahkan
Sebagai wakil dari Allah SWT, dengan misi menyampaikan risalah kepada umat manusia, Rasulullah SAW selalu konsisten dan komitmen dalam melaksanakan risalah tersebut; karena apabila apabila beliau tidak konsisten atau komitmen dalam menjalankan risalahnya, maka hal yang demikian akan menunjukkan bahwa ia tidak bisa menghadapi apa yang dibebankan kepadanya, dan tentu saja akan menjadi bukti kebohongan atas pengakuannya sebagai utusan Allah SWT.
Sebagai seorang rasul, tentunya beliau akan sangant mengenal keagungan Allah Azza Wa Jalla, sehingga tidak akan mendurhakai segala perintah-Nya; karenan dengan mendurhakai perintah Allah , berarti ia telah berkhianat. Dan orang yang tidak bersikap amanah tidak alyak utnuk mengemban risalah Allah SWT.
Salah satu contoh dari komitmen beliau atas perintah Allah SWT, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikhani (Bukhari dan Muslim), dari Aisyah, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Aku bertanya kepada beliau,”Mengapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullh!? Padahal dosa-dosamu yang akan dan yang sudah berlalu telah diampuni. Beliau menjawab,”Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?. Hal tersebut beliau lakukan, dalam rangka untuk memperlihatkan komitmennya terhadap perintah Allah SWT.
Allah SWT berfirman,
بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ.
Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Az-Zunar (39) : 66)

1.2.3 Menyampaikan (Tabligh)
Rasulullah SAW senantiasa menyampaikan kandungan risalah secara sempurna dan kontinyu tanpa mempedulikan kemurkaan, penyiksaan, gangguan, tipu daya dan teror dari orang-orang yang memusuhinya. Beliau tetap istiqamah dan tidak tidak melakukan penyimpangan terhadap perin tah Allah SWT, betapapun banyak godaan yang merintanginya.
Tanpa adanya tabligh, risalah tidak akan pernah muncul ke permukaan, begitu juga halnya tanpa sikap sabar dan konsisten dari Rasulullah SAW, dakwah ini tidak akan pernah eksis. 

1.2.4 Cerdas (Fathanah) 
Cerdas adalah sifat yang harus selalu mengiringi upaya tabligh, karena disaat menyampaikan dakwahnya, seporang rasul akan banyak menghadapi bantahan dan perdebaan para musuh, pertanyaan para pengikutnya dan penentangan serta kritik orang-orang yang meragukannya. Oleh karena itu, ia harus memiliki kepastian kecerdasan, kekuatan argumentasi dan kekuatan berfikir yang menjadikannya mampu membungkam para musuh sehingga mereka tidak lagi mempunyai alasan untuk menolak.
Kalau seandainya mereka masih memiliki alasan untuk menolak, berarti seorang rasul tidak akan bisa menguasai mereka. Sebagaimana firman Allah SWT,
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا.
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa` (4) :165)
Hal tersebut tidak akan terjadi, kecuali apabila dakwah rasul itu seluruhnya benar. Sebab yang tidak benar tidak mungkin memiliki alasan yang jelas, dan yang bathil alasannya akan selalu mudah untuk dipatahkan. Hal ini tidak akan terealisir tanpa disertai dengan kecerdasan yang mampu menegakkan setiap hujjah dalam setiap pemaparan.

Di antara contoh kecerdasan Rasulullah SAW, ketika beliau ditanya oleh seorang lelaki,”Apakah engkau Rasulullah? Beliau menjawab,”Ya.” Orang tersebut bertanya lagi,”Apa yang engkau sembah? Beliau menjawab,”Aku menyembah Allah semata, Tuhan yang apabila kamu mengalami musibah lalu kamu berdo’a kepada-Nya maka Dia akan menghilangkan musibah itu darimu. Tuhan yang apabila kamu mengalami ekkeringan, lalu kamu berdo’a kepada-Nya, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Tuhan yang apabila kamu tersesat di suatu belahan bumi, lalu kamu berdo’a kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikanmu.

Lelaki tadi masuk Islam, kemudian berkata,”Berikanlah aku wasiat wahai Rasulullah! Beliau bersabda,”Janganlah engkau mencela apapun dan siapapun.” Orang itu berkata,”Sejak Rasulullah SAW memberikan wasiat wasiat tersebut, aku tidak pernah lagi mencela seekor unta atau kambing sekalipun.”
Contoh lain dari kecerdasan beliau, ketika kabilah-kabilah Arab ebrselisih tentang siapa yang lebih berhak untuk meletakkan hajar Aswad, maka dipanggillah Rasulullah SAW untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, kemudian dengan kecerdasannya, beliau menghamparkan sorbannya dan menyuruh kabilah-kabilah Arab untuk meletakkan hajar Aswad di atas sorbannya. Kemudian beliau menyuruh mereka semua untuk memegang keempat ujung sorbannya dan menyuruh mereka untuk mengangkat sorban tersebut lalu lalu beliau mengambil hajar Aswad itu dan meletakkannya sendiri pada tempatnya.
Dengan kecerdasan beliau seperti itu, semua kabilah Arab mau menerima dan merasa puas dengan keputusan tersebut sehingga mereka tidak berselisih lagi.


Akhlak Terhadap Rasul

Setiap orang mengaku beriman kepada Allah SWT tentulah harus beriman terhadap para Nabi dan Rasul-Nya, meyakini bahwa memang benar adanya utusan yang Allah utus ke tengah-tengah kehidupan ummat islam terdahulu. Nabi sangat mencintai ummatnya. Beliau hidup dan bergaul sehingga dapat merasakan denyut nadi mereka. Beliau sangat menyayangi umatnya. Dalam mencintai Rasulullah, marilah meneladani para sahabat-radhiyallahu ‘anhum.diriwayatkan betapa cintanya Tsauban kepada nabi sehingga dia tidak dapat menahan rindu kalau lama tidak melihatnya. Suatu ketika ia tidak melihat wajah Nabi beberapa hari lamanya. Mukanya pucat, hatinya gundah gulana. Ketika bertemu dengan Nabi, ia ditanya tentang perubahan keadaan yang demikian itu. Tsauban menjawab: “ saya tidak sakit ya Rasulullah. Hanya saja apabila saya terhalang melihat wajah tuan, saya tidak dapat menahan hati. Dan saya takut benar di akhirat nanti tak dapat memandang wajahmu. Tuan berada di surga di tempat yang sangat tinggi. Saya tentu tidak dapat menyertai tuan”. Mendengar kata-kata Tsauban Nabi berkata : “ engkau beserta orang yang engkau cintai”.
Mengikuti dan menaati Rasul
      Mengikuti Rasulullah SAW (ittiba’ ar-Rasul) adalah salah satu bukti kecintaan hamba terhadap Allah SWT. Dalam banyak ayat, Allah SWT meletakkan perintah taat kapada Rasulullah disebut sacara eksplisit sehingga kalimatnya menjadi “taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul”. Seperti yang termaktub dalam firman-Nya :
“ Katakanlah: Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling , maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”(Q.S. Ali-Imran : 32)
      Apabila perintah rasulullah saw tidak diikuti, malah yang diikuti adalah keinginan masing-masing, maka yang rugi bukanlah Rasulullah , melainkan diri kita sendiri. Mengikuti dan mematuhi Rasulullah saw, berarti mengikuti jalan lurus dengan mematuhi sagala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan tersebut adalah segala aturan kehidupan yang di bawa oleh Rasulullah saw yang terlembagakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Mengucapkan shalawat dan salam
      Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad saw.
“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab :56)
      Nabi Muhammad saw sangat menghargai setiap orang yang bershalawat kepada beliau. Dalam sebuah hadits Nabi mengatakan
 “ Sesunguhnya orang yang paling utama kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi).